Orang Muda Bicara Lintas Agama dan Kepercayaan

orang muda
Orang Muda Komhaak Bersama Para Narasumber Diskusi Lintas Agama dan Kepercayaan

Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Jakarta (Komhaak KAJ) beserta panitia pelaksana yang sebagian besar orang muda yang pernah mengikuti kaderisasi Komhaak KAJ dari Angkatan I-IV menghadirkan acara Workshop Orang Muda Lintas Agama dan Kepercayaan bertemakan “Keterlibatan orang muda menanggapi keberagaman dan isu-isu kemanusiaan,”.

Workshop yang diadakan di hari minggu ini bertempat di Museum Nasional, Jakarta. (28/06/15)

Orang Muda 1
Suasana hangat saat diskusi lintas agama

Workshop ini menghadirkan para pembicara yang berasal dari lintas agama dan kepercayaan seperti Seto Wijaya Aktivis Sosial Kemasyarakatan (Katolik), Abdiel Fortanus Tanias (PGI-Kristen Protestan), Suparjo (Hikmahbudi – Buddha), Kristan (Gemaku – Konghuchu), Eka Saputra (KMHDI – Hindu), dan Euis Kurniasih (Unsur kepercayaan – Sunda Wiwitan).

Ada pula selain mengundang para pembicara tersebut panitia turut mengundang Fajar Riza Ul-haq (Ma’arif institute – Muslim) namun beliau berhalangan hadir.

Menurut Ketua Panitia, Raymond Harve Purwaditya Mada, acara ini karena adanya keprihatinan kepada orang muda yang kurang terlibat dalam menanggapi keberagaman dan isu-isu kemanusiaan. Disamping itu, Yohanes Haryono sebagai Ketua Komhaak KAJ mengajak seluruh peserta yang hadir untuk berfikir secara luas tentang masalah-masalah kemanusiaan dalam perspektif agama yang ada di Indonesia melalui narasumber yang sudah hadir dan kompeten.

Baca juga: OMK PELOPOR BER-MEDSOS SEHAT

Acara yang di moderatori oleh Stefanus Asat Gusma dibuka dengan hikmat dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia raya.

Dalam pengantarnya, Pendamping Orang Muda Komhaak KAJ, MM Restu Hapsari, meminta secara serius bagi peserta untuk mengkonkritkan lagi terkait hal-hal yang sudah dilakukan dilingkungan sekitar mereka khususnya paroki masing-masing peserta, dan apa yang akan dilakukan terkait langkah kedepan mengenai keberagaman dan isu-isu kemanusiaan.

Diskusi interaktif berjalan lancar, terlihat dari berbagai pertanyaan peserta yang cukup memukau para pembicara.

orang muda 3
(Kanan-kiri) : Euis Kurniasih (Sunda Wiwitan), Kristan (Kong Hu Cu), Eka Saputra (Hindu), Abdiel Fortanus Tanias (Kristen), Seto Wijaya (Katolik)

Dalam sesi diskusi Abdiel Fortanus Tanias mengakui kurangnya partisipasi kaum muda kristen menjadi masalah saat ini.

Abdiel mengajak audien membangun dan memanfaatkan jaringan karena sekarang kita harus menunjukkan diri kepermukaan melalui jaringan pula mungkin kita dapat bicara diluar.

Sementara itu, menurut sudut padang Hindu melalui Eka Saputra menyatakan bahwa konsep pluralisme Hindu di ajarkan konsep Tat Twam Asi yang berarti Kamu adalah saya, dan sadalah kamu.

Ia menyimpulkan Hindu menghargai pluralism karena setiap pemeluk agama memiliki penghayatan dan pengetahuan.

Disisi lain, Kristan sebagai pemeluk agama Konghuchu mengatakan keberagaman harus dibuktikan melalui praktek, jangan sampai kita yang mengakui Tuhan malah justru kita yang menodai-Nya.

Ia mencontohkan beragama itu ketika kita melihat teman kita membuang sampah sembarang kemudian kita menegurnya.

Lain halnya tanggapan dari Euis Kurniasih, dari unsur kepercayaan Sunda Wiwitan, berpandangan bahwa kita banyak timbul tekanan dari mana-mana bahkan menerima berbagai diskriminasi manusia tidak bisa memilih untuk dilahir dimana atau beragama apa ?

Orang muda 4
Paparan narasumber Eka Saputra

Baca juga: AIR MATA HITAM VERONICA

Menurut ajarannya, Ia menyampaikan hukum Gusti Maha Kawasa adalah dengan kita sadar bahwa kita dilahirkan sebagai manusia, dan ketika sadar kita memiliki bangsa dan kita harus menjalan nilai-nilai kebangsaan.

Suparjo, pembicara yang hadir dari agama Buddha sangat berbeda dengan pembicara lainnya.

Ia fokus menyoroti kemiskinan di Negara dunia ketiga, dan bagi dia konsep pembangunan hanya mengacu pada ekonomi dan uang.

Dari sudut pandanf Budhis merasa yang mengacu pluralism bahwa perlunya pelestarian kearifan lokal.

Pembicara Terakhir dalam sesi diskusi tersebut adalah Seto Wijaya, Pria asal Klaten yang mewakili unsur agama Katolik.

Dalam paparannya, ia menampilkan berbagai foto yang menampilkan keberagaman di daerahnya dimana sampai saat ini hidup dengan perbedaan namun tetap nyaman berdampingan.

Ia mencontoh dokumentasi foto diskusi para pemuka agama di altar Gereja Stasi Santo Petrus-Paulus di daerah lereng merapi, Kota Klaten.

Ia berpendapat bahwa selama ini tak akan melupakan semua proses tersebut, dan keberagaman dan kemanusiaan itu sebaiknya dikemas tidak seperti event saja.

Menutup acara diskusi, moderator menyampaikan bahwa diskusi hari ini tidak akan selesai pada hari ini tapi melalui terjun langsung kemasyarakat mejemuk dan itu membutuhkan proses yang sangat panjang.

Orang muda 4
Suasana sesi tanya-jawab

Memasuki acara Forum Groups Discussion (FGD) dan Rapat Tindak Lanjut (RTL) para peserta dibagi menjadi kelompok diskusi sesuai dekanat masing-masing.

Dalam hasil Diskusi tersebut, MM Restu Hapsari menyampaikan ketika bicara tentang Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan kendala ternyata ada pada relasi, mari kita evaluasi diri kita sendiri. “Bahwa ternyata kita terbatas jaringannya”.

Dari beragam RTL yang muncul ada tindak lanjut yang ingin melaksanakan live-in, retret lintas agama, baksos pembagian sembako di gunung gede, donor darah, sahur on the road, kerja bakti bersama warga sekitar, 17-an bersama dengan karang taruna, bahkan sampai melakukan pemetaan sosial seperti ruang gerak kelompok radikal.  (-red)

Hadir pula Sebastian Salang yang juga sebagai pendamping, Ia berpesan Jangan pernah bosan dan malas karena ada banyak yang masih bisa dikembangkan.

Menurutnya, banyak sekali orang pintar dibumi ini tapi yang mau berkorban dan meninggalkan kenyamanan pribadinya hanya sedikit bahkan kembali ke daerahnya sangat sedikit. (-red)

Wilayah Keuskupan Agung Jakarta sendiri memiliki 64 paroki yang bernaung didalamnya mewajibkan setiap paroki, uniknya ada pula peserta perwakilan paroki sudah berusia lanjut namun masih bersemangat mengikuti acara ini.

Artikel Ini dimuat di Majalah Rumah Konstituen Hal. 16 Edisi Juni-Juli 2015

Klik tautan berikut untuk >> Download Majalah Rumah Konstituen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *