Jokowi, Presiden Tak Berkacamata

Jokowi Presiden Tak Berkacamata
Jokowi Presiden Tak Berkacamata. sumber Foto: time.com

Indonesia sedang memasuki era ke”emas”an dimana Presiden Jokowi terus memukul genderang perang melawan kemiskinan dan bersahabat dengan percepatan pembangunan dan revolusi teknologi.

Di usia 57 tahun, Ir. H. Joko Widodo masih tak berkacamata dalam melaksanakan tugas-tugasnya setiap hari. Ia sangat berbeda dengan presiden-presiden yang sebelumnya.

Jokowi yang tak berkacamata ini menjadi fenomenal sejak dirinya maju di kontestasi Pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 berpasangan dengan Basuki T. Purnama.

Meraih total suara 2.472.130 atau dengan presentase 53,82% memastikan langkahnya menjadi orang nomor satu di DKI.

Tidak berhenti disana, pria yang lahir di Surakarta, 21 Juni 1961 silam itu menerima mandat dari Megawati menjadi calon presiden di pemilihan umum 2014.

Ironisnya, ia harus berhadapan dengan Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Umum Partai Gerindra yang pernah mengusung Jokowi pada kontestasi Pilgub DKI.

Kebijakan
Menjabat sebagai Presiden Indonesia sejak 20 Oktober 2014, Jokowi yang tak berkacamata itu memulai debutnya menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia. Kebijakan yang tidak populer pun di perkenalkan ayah dari tiga orang anak itu.

Ekonomi
Pengelolaan Makro Ekonomi menjadi kebijakan yang sangat tidak biasa yaitu dengan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan dengan sangat berhati-hati dengan8 menjaga nilai tukar rupiah dan mengatasi defisit nerasa transaksi berjalan, seperti Defisit APBN dijaga di bawah 3% dari PDB.

Ekonomi Indonesia tumbuh dan membaik dengan capaian pertumbuhan 5,17% (Semester I 2018).

Hal yang lebih menarik yaitu Pemerintah mengelola utang dengan mengalokasikan kebutuhan negara yang mendukung peningkatan belanja produktif. Per Juli 2018 Rasio Utang terhadap PDB berada di angka 29,74.

Hal ini masih sesuai dengan konsen pemerintah Jokowi dengan menjaga rasio tersebut dibawah batas psikologis 30% PDB.

OSS

OSS

Tahun 2018, Jokowi juga memperkenakan Online Single Submission (OSS) atau Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik.

Kebijakan ini mengubah sistem manual terpisah-pisah menjadi sistem elektronik teintegrasi untuk menciptakan iklim berusaha yang kompetitif dan efisien serta diatur dalam PP No. 24 Tahun 2018.

Kelebihan OSS diantaranya yaitu cepat, praktis, terintegrasi, mudah diakses, melayani banyak jenis perizinan, dan dapat dipantau langsung.

Sektor yang sudah menerapkan OSS, diantaranya: Ketenagalistrikan, Obat & makanan, Perdagangan, Perindustrian, Perhubungan, dan Keuangan.

Berdasarkan peringkat Ease of Doing Business (EoDB) Indonesia menempati posisi ke-72 di tahun 2017. Ini meningkat sangat drastis, dimana tahun 2015 hanya berada di peringkat 106.

Sumber Ekonomi Baru
Banyak negara yang konsen dengan perekonomian negara dari berbagai sumber daya alam milik negara itu sendiri, tapi lupa bahwa negara dapat menciptakan sebuah sumber ekonomi yang baru.

Presiden Jokowi dalam mengemban tugasnya, melaksanakan pengembangan sumber ekonomi baru berbasis aktivitas kreatif-inovatif.

Sektor ekonomi kreatif (Ekraf) mampu berkontribusi dengan menyerap tenaga kerja. Tahun 2014 jumlah penduduk di sektor ini mencapai 15,46 (juta jiwa), jumlah ini terus meningkat signifikan dengan mencapai 17,43 (juta jiwa) di tahun 2017.

ekraf

Tidak hanya itu sektor Ekraf mampu berkontribusi terhadap ekspor nasional dengan capaian 13,8% di tahun 2018.

Selain itu, pariwisata adalah primadona menjadi program andalan untuk di gencarkan oleh pemerintah Joko Widodo dalam pengembangan sumber ekonomi baru.

Devisa pariwisata pada 2017 mampu bertumbuh 14,77, dengan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 (juta kunjungan) dan wisatawan nusantara mencapai 271 (juta kunjungan).

Sepanjang tahun 2016 sampai September 2018, pariwisata Indonesia sudah mendapatkan 98 penghargaan dari 22 negara ditahun 2016, 10 negara ditahun 2017, dan 9 negara di tahun 2018.

Bersambung: Jokowi, Presiden Tak Berkacamata Bag. 2