Diselimuti Embun Gelap

embun

Diselimuti Embun Gelap

Lebam mata terbangun mendengar keriuhan pagi kota,
Duduk tanda mengembalikan nyawa yang semalam hilang entah kemana,
Ingin rasanya kembali menutup bola mata,
Seraya bertanya “inikah wajah seekor ikan kecil yang mengikuti arus dunia?,”.

Pagi masih belum usai,
Masih ada berkilo-kilometer jalan yang harus terlewati,
Dihadapan kaca sang ikan memegahkan diri,
Engkau ikan kecil yang masih sendiri.

Ada mata yang menatap luka masa lampau,
Disampingnya bertaburan kenangan manis terdengar seperti desir air dipinggir danau,
Sisi lainnya ada harapan yang hanya tersurat,
Lemah sang ikan mulai tergurat.

Dedaun rerumputan rata bertumpukan udara lembab,
Memikirkan itu ingin rasa sang ikan terjerembab,
Berteriak didalam air yang penuh bongkahan batu,
Kala itulah instrumen otaknya dilumuri tinta hitam.

Tersadar sang ikan terbawa arus deras,
Siripnya yang kecil tak kuasa membantunya terbebas,
Ia menjadi santapan kejam seleksi alam,
Tentang semua ini ia tidak mendapat kesempatan untuk paham.

Kini keriuhan siripnya berhenti,
Kini nyawanya hilang dan pergi,
Tubuhnya terbawa arus sungai berkilo-kilometer jauhnya,
Tak ada satupun yang dapat dimegahkannya.

Semua hilang kesadaran,
Apa yang semua tersurat hanyalah mimpi belaka,
Layaknya harapan tanpa perjuangan,
Itu sangat menyakitkan, karena dingin tanpa tahu luka.

[Tepian Ibukota Jakarta, Februari 2017]
Karya : Edi Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *