BUDI MUGEN “ Buah Dingin & Jamu Gendong”

BUDI MUGEN “ Buah dingin & Jamu Gendong”

Menilik dari nama BUDI MUGEN merupakan sebuah nama singkatan dari “Buah Dingin dan Jamu Gendong” yang tidak asing ditelinga masyarakat Jakarta barat khususnya Kelurahan Duri Selatan, Tambora.

Komunitas ini wajar dikenal sebab komunitas ini adalah sebuah paguyuban pedagang warga Jakarta berasal dari Sukoharjo dan Wonogiri. Sesuai dengan namanya, para pedagang adalah penjual buah segar disusun dalam gerobak dan penjual jamu gendong.

Paguyuban ini adalah lembaga swadaya masyarakat mandiri, karena swadaya masyarakat itulah komunitas ini membentuk koperasi berprinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan untuk para pedagang di daerah Jakarta barat.

Berawal dari Bapak Sumin pernah mengikuti paguyuban di daerah Tangerang, Ciputat, kemudian menerapkan paguyuban yang sama tahun 1993 di daerah Tambora tersebut dengan membuat iuran setiap bulan di tanggal 5 kemudian terus berkembang hingga sekarang mencapai 75 anggota koperasi.

BUDI MUGEN “ Buah dingin & Jamu Gendong” 3
BUDI MUGEN

Biasanya iuran secara sukarela ini berkisar 5-10 ribu rupiah per pedagang untuk menjadi simpanan pokok, dan dana yang terkumpul dapat diproyeksikan sebagai dana pinjaman untuk para pedagang dengan pinjaman maksimal 4 juta rupiah setiap anggotanya.

BUDI MUGEN “ Buah dingin & Jamu Gendong” 4
Ibu kaliyem, Anggota Budi Mugen

Paguyuban Budi Mugen yang di pimpin oleh Bapak Untung ketika di bertemu tim RK mengatakan “Kalo kelebihan dari koperasi Budi Mugen untuk menghindari para pedagang dari pinjaman ke Rentenir dan membantu ekonomi pedagang,” ujarnya pria 46 tahun tersebut.

Tak hanya itu, paguyuban ini juga mempunyai beberapa pengurus seperti Ketua, Sekretaris, Bendahara, Humas sampai Seksi Pembantu Umum yang mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing.

Saat ini, semakin para pedagang jamu gendong sudah beralih menggunakan sepeda untuk menjajakan dagangannya disisi lain pedagang buah segar tetap menggunakan gerobak, meskipun begitu para pedagang rajin melakukan pertemuan ditanggal 5 dimana pada tanggal tersebutlah mereka melakukan rapat, mengumpulkan iuran dan merencanakan kegiatan-kegiatan sosial.

Paguyuban Budi Mugen sering melakukan kegiatan sosial jika koperasi memiliki dana surplus seperti memberi santunan kepada yatim-piatu dengan cara mengumpulkan data dari mushola setempat yang kemudian dihadirkan untuk diberikan santun secara langsung oleh para pengurus paguyuban.

BUDI MUGEN “ Buah dingin & Jamu Gendong” 5
Foto Ilustasi Penjual Buah Dingin. Sumber : qiesta[dot]net
Prestasi paguyuban Budi Mugen pun cukup membanggakan yaitu sabagai koperasi berprestasi pertama di lingkungan Jakarta barat, walau tanpa teknologi yang memadai namun paguyuban ini berhasil membuat pembukuan yang terdata dengan baik.

Meski tidak memilih menggunakan teknologi yang berkembang saat ini, paguyuban menyampaikan harapan besar untuk pemerintahan yang baru melalui Pak Untung, beliau mengatakan “yang sudah di parlemen kalo bisa hadir saat rapat, karena sudah mengabdi pada masyarakat. Masa rapat tidak hadir itu membuat rapat tidak quorum”ujarnya. “harapannya agar yang terpilih di DPR terus membela wong cilik dan mengingat warganya”.

Artikel Ini dimuat di Majalah Rumah Konstituen Edisi Oktober 2014
Klik tautan berikut untuk >> Download Majalah Rumah Konstituen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *